22
Jan
08

Pre, Almost, dan Post Power Syndrome

*sebuah kritik vs sarkasme manusia javanicus erectus*

Manusia-manusia memang aneh. Kalau yang lazim biasanya mengidap Post Power Syndrome, atau penyakit kejiwaan atau ketakutan akan kehilangan pengaruh kekuasaan setelah memasuki masa gak punya kekuasaan (pensiun). Cirinya berupa perilaku mengharapkan orang lain memperlakukan dirinya sama seperti saat punya kuasa (baca: Raja)

Itu lumrah dan banyak terjadi di zaman modern sekarang.

Tapi kalo yang namanya manusia dengan Pre Power Syndrome, lha ini aneh.. manusia ini aneh.. atau ada juga Almost Power Syndrome

.

Lambang

Pre Power Syndrome. Dia pikir dengan dekat dan menjadi abdi kepada para Raja, maka otomatis akan dianggap Raja..atau setidaknya layak mendapat perlakuan seperti Raja. Padahal seorang abdi kerajaan belum tentu berfungsi sebagai Kuncen, apa lagi jadi Abdi Dalem. Lha wong funsginya aja Abdi, tapi kok ya itu, sudah merasa terlebih dahulu.

Beda dengan Raja Asli, dia pasti akan mencari posisi pengenalan diri supaya mendapat perlakuan dari seluruh Rakyat. Padahal belum tentu Rakyat kenal. Ciri-ciri manusia seperti ini ialah;

1. Haus akan penghargaan (baca: pengenalan). Beda dengan gila hormat yah.. cuma sebatas "pengenalan", bahwa dia juga mau disebut kaum Ningrat

2. Biarkan yang lain menunggu. Tidak ada yang lebih penting dari pada kaum Ningrat (mungkin mirip filsafah "ergo sum" ..or, er..ehm apa lah itu)

3. Prinsipal. Maksudnya adalah; your way is not my business, but my way.. is your only way

4. Intelectual Terapan. Ya itu tadi, karena dekat dengan tampuk kerajaan, maka segala sesuatu bisik-bisik kebijakan dan titah dari Keraton pasti dia tau. Oleh karenanya dia menjadi "orang yang banyak tahu" menurut versinya.

.

Beda lagi dengan Almost Power Syndrome. Dalam fungsi Keraton yang lazim kita kenal, ada Permaisuri, Selir, Abdi atau Punggawa, Patih, Adipati, Empu, Kuncen, dan sebagainya. Atau kalau mau secara garis besar, dalam suatu Keraton biasanya ada Rakryan Mahamantri Katrini yang biasanya dijabat putra-putra raja, lalu Rakryan Mantri ri Pakira-kiran atau disebut dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan, Dharmmadhyaksa atau para pejabat hukum keagamaan dan Dharmma-upapatti yang disebut para pejabat keagamaan.

Sebutlah misalnya Patih (dalam cerita-cerita Pewayangan biasa dipanggil Paman Patih). Sesuai fungsinya, seharusnya seorang Patih memegang peranan sebagai Perdana Menterinya suatu Kerajaan. Mengatur sistem ke Kerajaan, membuat strategi pertahanan dan ekspansi Kerajaan, hingga mengatur fungsi operasional Kerajaan (baca juga: "mengatur" dalam kamus besar Bahasa Indonesia).

Makanya, kalau dalam permainan Catur, Patih punya langkah yang hebat.. kiri, kanan, diagonal, vertical, dsb kecuali langkah "L" yang hanya dimiliki para Kesatrian Keraton.

Ngomong ngalor-ngidul, seorang Patih ya tetap saja Patih. Bukan Raja, Sultan, apalagi Sang Hyang Widhi. Kadang Patih terlalu berambisi (atau bahkan sudah merasa) jadi Raja sih.. meninggalkan fungsi organiknya yang seharusnya diemban sesuai titah Raja yang tertuang dalam struktur Kerajaan seperti yang tertera pada lukisan Kerajaan.

Lha ini yang kadang bahaya, atau yang disebut Patih dengan Almost Power Syndrome. Cirinya:

1. Mirip dengan Pre Power Syndrome, cuma kali ini dia pikir dia bisa memberi Titah seperti Raja. Padahal jelas Titah Raja dan Titah Patih bunyinya beda

2. Menjalankan fungsi bela negeri. Padahal sebenarnya bela diri. Yang diselamatkan bukan negeri, tapi diri sendiri, supaya kelak bisa mengangkat diri sendiri menjadi Raja

3. Mengikuti gaya Raja. Copy Cat. Copy Paste. Atau apalah itu namanya, padahal Raja biasanya memiliki kharisma murni dari Sang Hyang Widhi, jadi punya karakter pemimpin yang dicintai dan layak disembah. Lha kalo Patih nya ikut-ikutan.. apa rakyatnya gak sebel.. jadi bingung.. yang mau disembah kok banyak

4. Hanya memperpanjang dan mempersulit. Mungkin ini cikal-bakal birokrasi Kecamatan dan Kelurahan dijaman sekarang. Titah Raja = Titah Patih. Jadi kalo Raja bertitah; "Patih, laksanakan pemekaran kerajaan abad ini juga, lakukan  pemasangan Panji-Panji kerajaan di jalan-jalan utama, jangan lupa siapkan Kepeng untuk mengundang Rakyat Jelata bersantap bersama dan berdagang di Keraton. Supaya kita bantu para Saudagar yang hendak berdagang di lingkungan Keraton. Juga tuliskan Titah saya pada Daun Lontar untuk bayarkan upeti Kerajaan kepada Nagari Tetangga".

Maka Patih "cuma" tinggal memanggil para Kacung Kampretnya *begitu sih dia memanggil para Mantri dan Panglima Kerajaan*, dan mengulang Titah Raja yang seharusnya jadi pekerjaan sehari-hari sang Patih, dengan berkata; "Wahai saudaraku sesama Nagari *ingat, padahal kalian Kacung Kampret-dalam hati*, Ini Titah: laksanakan pemekaran kerajaan abad ini juga, kalian harus  pasang Panji-Panji kerajaan di jalan-jalan utama, harus tidak boleh lupa siapkan Kepeng untuk mengundang Rakyat Jelata bersantap bersama di Keraton. Supaya kita bantu para Saudagar yang hendak berdagang di lingkungan Keraton. Juga tuliskan Titah Raja kita pada Daun Lontar untuk bayarkan upeti Kerajaan kepada Nagari Tetangga". Kira-kira begitu

5. Patih (menurut dia) tidak boleh mengerjakan pekerjaan lain yang sifatnya kecil. Karena (lagi-lagi menurut dia) seorang Patih itu tugasnya sudah berat. Penat. Penting. Memikirkan ke depan. Sehingga saat para Mantri dan Panglima serta Rakyat bekerja dengan Titah No. 4 di atas, dia tidak akan turut serta, karena berdalih untuk memikirkan rencana pemekaran Kerajaan abad depan. Nanti, saat pemekaran Kerajaan abad depan tiba, dia akan berkata bahwa para Mantri dan Panglima lah yang akan bekerja, karena dia harus memikirkan rencana pemekaran Kerajaan abad depannya lagi..dan begitulah seterusnya.

Sekedar terjebak kepada kebiasaan dan karakter yang tidak terkikis

.

-dee-

*sebuah fenomena, ditulis malam-malam, sambil memikirkan rencana mau ngapain ya besok-besok.. terinspirasi juga oleh Jogja Expo, ..sambil kadang inget iklan salah satu rokok yang nyangkut dengan kata; "JOGJAA!!" ..juga sambil denger "bosanova jawa 3".. megang lagunya! semoga tanah negeri ku bisa maju, jangan sedih*


0 Responses to “Pre, Almost, dan Post Power Syndrome”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: