13
Jan
08

Kematian Paman Gober

*Sebuah Komik, buat yang lagi kangen atau sekedar iseng karena gak ada kerjaan baca-baca Blog orang lain*
Gober

Kematian Paman Gober ditunggu-tunggu semua bebek.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya
satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati.
Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan
bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya
berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober
mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah
terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti
bertambah.

.
Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal
lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat
pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata,
"oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu."
Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal,
pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun
pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada
pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata,
uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman
Gober.


.
Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder No.1, Paman
Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada
keluarganya, Donald bebek, ia tidak pernah memberi
bantuan, meski Donald telah bekerja sangat keras malah
Donald ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik,
dan Kwek, hampir selalu diperas tenaganya, dicuri
gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi.

.
Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang
dimuka rumahnya tertera papan nama "Penemu, Bisa
Ditunggu", pun hampir selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai
kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun
keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Paman
Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang
tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa
kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan,
jimat Paman Gober, namun keping uang logam kumuh itu
selalu berhasil direbut kembali.

.
Tidak bisa
dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa
mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung
emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang
telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi
dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek,
sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah
pertanian jauh di luar kota, adalah kenyataan bahwa
Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Paman Gober
menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus.
Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap
kali ada orang mengecam, menyaingi, pokoknya mengancam
reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang
itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis
tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia
sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa
begitu dicintai?
"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada
Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas
bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari
bermimpi makan roti apel.

.
"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek.
.
Dasar
bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donald,
membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

.
"Belum mati juga!"

Donald segera membuang lagi Koran itu dengan kesal.
Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di
Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat,
tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan
pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan
media.

.
Semua bebek memang menunggu kematian Paman Gober.
Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca.
Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati.
Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya
cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli
sebuah bukit, dan membangun mausoleum di tempat itu.


.
Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah
siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah
tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika
saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya,
saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai
beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek
lain yang mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku
otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang
menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses.
Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana
Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun
bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat
bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah
tambahan.
.
Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya
Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama
Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu
terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung
seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih,
sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.


.
"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi.
.
Namun, entah kenapa,
kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang
terlalu berkuasa dan terlalu kaya. Setiap hari yang
dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donald Bebek
bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak
pernah peduli kepada tetangga, bantuan keuangannya
kepada Donald segera dihentikan.

.
"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih
meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku
sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan
manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari
manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan
manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Paman mau menyembelih sesama bebek, apakah sudah
mau meniru sifat manusia?"

.
Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober
suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa
mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan
kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televisi.
Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani
putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek
tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek
bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga
semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada
warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur,
dan monumen, apa jadinya Kota Bebek?"

.
Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani
bicara.


.
"Paman Gober," kata Donald suatu hari, kenapa Paman
tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian
seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup?
Sudah waktunya Paman tidak terlibat lagi dengan urusan
duniawi."

.
"Lho, aku mau saja Donald. Aku mau hidup jauh dari Kota
Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan
membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi,
apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin
aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus
terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus
peternakan."


.
Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan.
Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan,
karena memang hanya ada satu pemimpin. Segenap pengurus
bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman
Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti
Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila
membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota
lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa
bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu
memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman
Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman
Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan
diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya
yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru.
Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan,
yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi
pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman
Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa
paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

"Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

.
Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman
Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen,
tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun.
Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi
ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi
yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu.

.
Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang
ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari ini
Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap
akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman
pertama.
———–
*Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma*


3 Responses to “Kematian Paman Gober”


  1. January 17, 2008 at 19:59

    katanya sakit, kok bisa bisanya create blogšŸ˜
    btw congrates yah, jgn lupa makan makannya ya, kalo ga sempet ( gw pas balik kantor, lo dah cao), dikirim juga ok kok ;p gw pesen makanan india yg lo prnah sok tau makan itu deh…;p

  2. 2 ari_ady
    July 10, 2009 at 01:41

    ijin,gambar gober aku pake di profile facebook,

  3. September 24, 2010 at 08:32

    ikut, kaya ari………


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: